Hijrahku untuk Allah SWT

My greatest regret in my life is…. dating.

And since 2014, Alhamdulillah, I decided to stay myself single until someday, sooner or later, I met the right person that Allah SWT sent to me. Mungkin ini bentuk hijrah saya selanjutnya sebagai seorang muslimah, setelah tahun 2012 saya pertama kali berhijrah dari yang awalnya suka pamer rambut dan badan, lalu memutuskan untuk menutup aurat saya dan berjilbab. Tapi, saya lantas merenung, berjilbab pun bukan berarti, TADA! kita sebagai wanita dianggap sudah menjadi wanita atau muslimah yang baik. Tidak dengan saya.

Layaknya wanita yang baru berjilbab, ditambah dulu kelakuan saya bisa dibilang ‘liar’ (jangan dianggep liar yang kayak cabe-cabean ya), intinya kelakuannya ga banget deh, dimana saya sering dicaci maki pada minggu-minggu pertama saya berjilbab. Dibilang ga pantes lah pake jilbab, kelakuannya belom bener lah, dan sebagainya. Dulu, pas awal berjilbab bahkan ada yang berani bilang di depan muka saya, “Paling seminggu juga udah lepas.” Dan percaya tidak percaya, omongan itu keluar dari mulut salah satu teman dekat. Alhamdulillah, Allah SWT masih menjaga keyakinan saya hingga sampai sekarang saya masih bisa bertahan dengan jilbab saya, tapi yang selanjutnya ini yang agak sulit menurut saya. Berperilaku selayaknya seorang muslimah yang baik. Dan ironisnya, awal saya berjilbab, saya malah melumuri diri saya sendiri dengan dosa. Pacaran.

Sampai akhirnya pada tahun 2013 akhir, tiba-tiba saya seperti ‘disentil’ sama Allah SWT. Saat itu saya yang sudah pacaran selama 2 tahun lebih, tiba-tiba dibolak-balikkan hatinya oleh Sang Maha Pembolak-Balik Hati. Saya tiba-tiba sangat ragu-ragu dengan pasangan saya saat itu, tanpa ada alasan yang jelas. Saya merasa yang saya lakukan dengan dia merupakan dosa besar, sampai pada beberapa minggu kemudian, mama menghampiri saya dan bilang sesuatu yang membuat saya bilang sama diri saya sendiri, mungkin ini solusi dari keragu-raguan saya. “Ditta, tahun depan kita umroh ya.” Untuk pertama kalinya, saya merasa Allah SWT benar-benar dekat dengan saya saat itu, seolah ia sedang mengulurkan tangan-Nya menuntun saya keluar dari keragu-raguan tersebut. Belum saja sampai di tanah suci, bahkan saat saya baru melakukan manasik, air mata saya luluh. Saya merasa saya yang berlumuran dosa ini tidak layak untuk berangkat ke tanah suci, menjadi tamu Allah SWT. Tapi, Allah SWT berkehendak lain, Allah SWT masih mau mengundang saya ke rumah-Nya.

Masya Allah, sesampainya saya di tanah suci, melihat Ka’bah di depan mata saya, air mata seperti gabisa dibendung lagi. Berada di tanah suci. Yang sudah pasti menjadi impian semua orang muslim yang mungkin jauh lebih taat dibandingkan saya, tetapi Allah SWT tetap mengundang saya. Saya yang terlalu banyak dosa sampai saya merasa seperti sampah di hadapan-Nya. Setiap saya sholat dan berdoa, saya selalu merenungkan dan menangisi setiap kesalahan dan dosa-dosa saya. Saya malu. Malu dengan diri saya. Malu dengan jilbab saya. Saat itu, salah satu doa saya adalah untuk mendekatkan orang itu apabila dia memang jodoh saya, dan jauhkan jika memang bukan. Dan, kuatkan hati dan keyakinan saya untuk tetap berada di jalan yang benar. Allah SWT mendengar dan menjawab saya. Sepulangnya saya dari umroh, keyakinan saya untuk memutuskan pacar saya saat itu, semakin kuat. Dan setelah mencari kekuatan dan keyakinan, dengan membaca buku, Al-Quran dan Hadits, mendengar ceramah dan kajian Islam yang berhubungan larangan dan mudharatnya pacaran, saya memberanikan diri untuk menyudahi hubungan saya. Hijrah saya yang kedua, di hidup saya. Tidak berpacaran.

Cobaan di hijrah saya ini jauh lebih berat levelnya dibandingkan hijrah sebelumnya. Tapi, motivasi saya cuma satu, saya ingat kata mama, Allah SWT mau menaikkan derajat kamu dengan menguji keimanan kamu. Jujur, hampir setahun saya dibuat galau oleh setan-setan yang berusaha menggagalkan hijrah saya. Tetapi, saking sayangnya Allah SWT sama saya, hamba-Nya yang bandel ini, saya diingatkan kembali untuk kembali berada di jalan-Nya. Dan, alhamdulillah, mulai tahun kemarin, saya benar-benar menjalankan hijrah saya dengan baik hingga sampai saat ini. Dan benar saja, rasanya kehidupan sehari-hari lebih bahagia, walaupun sering dikatain dan digodain, “Dasar jomblo ngenes.” Sudah biasa. Untungnya lagi, dengan status saya yang single ini, saya malah bisa mengenal diri saya lebih jauh. Mengejar mimpi saya yang saat pacaran dihabiskan buat mikirin dia. Bersilaturahmi dengan teman-teman dan menghabiskan waktu bersama keluarga yang dulunya saya habiskan dengan sibuk dengan handphone untuk membalas chat dia. Dan yang paling penting, bisa lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, yang dulunya saya habiskan dengan malam mingguan atau telfonan ga jelas.

Kalo kata orang, jomblo itu nasib, single itu pilihan. Kalo menurut saya, jomblo atau single sama aja. Sama-sama pilihan. Terserah mau memilih untuk lebih mendekatkan diri sama ciptaan-Nya, yang bisa jadi suatu saat bisa meninggalkan atau mengkhianati kita atau mau lebih dekat sama Sang Penciptanya, yang dijamin ga akan meninggalkan dan mengkhianati kita apapun yang terjadi?

PS : Tulisan ini bukan menyudutkan yang pacaran atau yang galau karena single mulu ya hehe. Saya berdoa untuk yang jomblo/single (seperti saya) dipertemukan dengan pasangannya yang tepat, di waktu yang tepat pula seperti yang ditentukan Allah SWT, dan untuk yang lagi punya pacar, supaya kalian atau pasangan kalian segera diketukkan pintu hatinya untuk menghalalkan hubungannya deh. Last but not least, mari sama-sama berdoa agar kita tetap istiqomah untuk terus berhijrah menjadi muslim/muslimah yang lebih baik.

Group Travelling vs. #GoShow ala Wardhana’s Family

Sebenernya selama saya travelling dalam dan luar negeri, saya udah pernah ngerasain tipe travelling ala backpackers, group travelling with strangers, group travelling with my big families, dan ala ala go-show nya keluarga saya. Untuk yang backpackers waktu itu sih cuma ngerasain pas di Pulau Pramuka sama Singapore, kalo group travelling with totally strangers waktu Euro-trip tahun lalu, nah kalo ala ala go-show ini yang jadi ciri khas keluarga inti saya. Biasanya sih pas udah sampe sana, ujungnya bingung mau ngapain. Haha. Saya sebenernya bukan pakar travelling banget, tapi ya sekedar share aja buat yang berniat untuk travelling dan bingung mau pake ‘jalur’ travelling yang mana, ya let me share my experience with these 2 type of travelling.

Travelling with big groups and a tour guide.

  • Cocok untuk kalian yang pengen ngunjungin banyak tempat/negara/kota, tapi cuma punya waktu cuti atau liburan yang terbatas.

Karena biasanya di awal kita udah dapet itinerary lengkap, mau kemana aja, hari 1-2, dan seterusnya. Buat saya pribadi kalo kalian cuma mau ngunjungin satu negara, mending gausah pake tour. Karena tour and travel biasanya selalu padet tiap harinya, dan kesannya akan terlalu terburu-buru. Tapi kalo emang tujuan kalian mau mampir ke banyak kota/negara kayak keliling Eropa, ya lebih baik pake paket dari tour and travel yang ada.

  • Terima jadi.

Dengan adanya tour guide, ya kalian tinggal duduk santai semua udah diurus sama si tour guide. Mulai dari check in bandara, imigrasi, hotel, makan, semuanya lengkap. Tapi, harus mau diatur loh ya.

  • Meeting new people.

Trip saya ke Europe tahun lalu, menemukan saya dengan orang-orang baru yang alhamdulillah tipikal orangnya banyak yang down-to-earth, ga resek, dan ya untungnya sepaham. Terlebih lagi tour guidenya yang oke! Mungkin saya sekeluarga bisa disebut beruntung. Tapi, ga semua tour group yang kayak gini. Mungkin ada yang bakal ketemu dengan tipikal orang-orang yang rempong, suka ngatur, dan sebagainya. Tapi, inget, tujuan kita trip buat seneng-seneng, bukan ngajak tawuran. So, that’s why a consideration is a must!

  • Consideration is a must!

Travelling with strangers, sometimes a bit annoying. Karena kalian harus kompromi dengan kemauan begitu banyak orang dalam satu grup itu. Misalnya, pengen nyobain makanan tradisional ini, tapi belum tentu peserta yang lain mau. Atau mau mengunjungi tempat A, sedangkan yang lain mau ke tempat B. Dan yang lebih pasti, kalian harus punctual banget sama itinerary dari si tour guide. Misalnya, kalian telat bangun aja bisa mempengaruhi travel itinerary satu grup. Jangan harap cuma bisa minta maaf cengangas cengenges terus that’s it. Siap-siap aja disinisin satu grup cuma gara-gara telat (ya kalo emang dapet tipikal grup yang resek).

  • Time is ticking.

Buat orang yang tipikal kayak saya ini (read my previous post about Seeing the local’s perspective), diburu-buruin pasti ga enak banget. Kalian baru turun bus, mau sekedar foto-foto atau nongkrong liat sekeliling juga terbatas, tiba-tiba udah disuruh naik bus lagi. Waktu saya di Milan, bersama grup tour, itinerary-nya dijadwalkan 2,5 jam untuk shopping di Duomo dan nanti berkumpul dalam keadaan sudah makan siang. Tapi, keluarga saya lain, mau ngejar ke San Siro Stadium demi adek dan papa. Mumpung di Milan. Intinya, kita sempet nyasar karena dari Duomo ke San Siro, kita harus naik tram (without the tour guide of course), dan sempet bingung nyari booth ticket tramnya dimana. Pas balik, waktu udah mepet sekali buat kumpul, dan kita berempat belom makan siang. Akhirnya, yang kita udah duduk di satu restoran pizza (lupa namanya), terpaksa bilang untuk langsung di take away. Dan, lama juga jadinya. Akhirnya, kita terpaksa lari-lari ke bis supaya ga telat. Nyampe sih tepat waktu, tapi man, ternyata ada juga yang telat. Terus jadi bete. Terus gaenak deh. No consideration of others will make your trip awful. Trust me.

Go-Show (ala Wardhana’s family).

Okay, ini tipikal travelling favorit saya. Mehehehe.

  • Cocok untuk kalian yang cuma travel di 1/2 negara atau kota.

Disini kesempatan kalian untuk explore kota itu lebih dalam dan lebih santai. Bisa lebih lama di tempat yang menurut kalian lebih oke buat foto-foto atau nyaman buat sekedar duduk-duduk. Dan yang terpenting, kalian bisa ngeliat dan ngerasain gimana menjadi bagian dari hiruk pikuk kota dan aktivitas lokal disana.

  • Have your mobile phone data roaming package on. Either beli kartu lokal, atau aktivasi dari provider dari daerah asal kalian.

But no, ini bukan buat update location Path, instagram, snapchat, friendster, apapun itu. This is your life guide selama di negara/kota orang. GPS. Pengalaman saya, gapake GPS pas di Busan, berakibat saya harus jalan kaki ke tujuan saya yang cuma 1km jadi 7km. Dan itu disudahi dengan menyerah naik taksi aja karena tiba-tiba pedestriannya mentok, dan saya ngeliat papan penunjuk arah menuliskan kata arah Seoul. Yup, hampir jalan kaki masuk jalan tol. Nice one. Kenapa mesti GPS? Kenapa ga pake map biasa aja yang kertas gitu? Pertama, ribet. Buka-buka kertas map segaban ditengah jalan. Kedua, GPS bisa ngedetect kalian posisi dimana, berapa jauh lagi tujuannya, bahkan harus ngarah ke utara-selatan-barat-timur dan sebagainya.

  • Bikin itinerary yang fleksibel.

Ini yang saya bilang #goshow ala Wardhana’s family.Bukan berarti bener-bener gaada tujuan. Tapi bikin itinerary yang bisa disesuaikan dengan mood dan kondisi yang ada. Misalnya, pas natal tahun lalu kita ke Hongkong. Kita udah bikin destinasi mau kemana aja per hari sebelum kita berangkat ke Hongkong. Tapi kita ga bikin per jam. Itinerary per jamnya kita bikin semalem sebelum trip ke destinasi tersebut. Dan kita ga ngoyo orangnya, misalnya pas di Victoria’s Peak, kita sempet ngabisin waktu sampe 4 jam cuma buat keliling-keliling dan minum kopi. Karena cuacanya enak banget, dingin-dingin sejuk yang bikin pengen minum yang anget-anget. Tadinya, kita udah ngerencanain mau ke Causeway Bay lah, mau langsung ke Victoria Harbour, dsb. Tapi karena saat itu kita lagi seneng dan pewe banget duduk-duduk di Victoria’s Peak itu, yaudah nikmatin aja dulu selama mungkin sampe bosen.

  • Travel with public transportation.

The first thing, we did as soon as we landed, is to buy subway or public transportation ticket. Biasanya sekaligus beli paket yang bisa provide perjalanan sampe hari terakhir. Pokoknya sebisa mungkin, kalo ngedatengin negara/kota dengan public transportation yang lengkap, hindari taksi. Coba beberapa moda transportasi kayak tram, bus, subway, boat, apapun itu. Kapan lagi coba, ngerasain moda transportasi yang ga ada di Jakarta. Taksi is the very last option kalo udah kepepet banget.

  • Wear your most comfortable outfits, and most important, SHOES!

This applies not only for girls, but boys too. Kalian bakal lebih sering jalan, dibandingkan travel dengan tour, yang paling cuma turun bus, naik bus, jalan dikit, udah. Biasanya sih saya lebih prefer pake sneakers kalo keluar negri, tapi punya cadangan sendal juga. Sendalnya sendal jepit lagi. Udah gaada manis-manisnya deh. Hindari high heels, wedges atau apapun itu (buat cewek), atau yang buat cowok, sepatu leather atau apapun yang bikin kaki lecet. Yang ada kalian malah bete atau kesakitan selama jalan, terus malah gabisa nikmatin tripnya. Comfort first, looks is second.

Phew. Panjang ugak. Tapi mudah-mudahan sih bisa jadi bahan pertimbangan buat kalian yang mau travelling ke luar negeri/dalam negeri. Yang perlu diinget, jangan mudah ngejudge masing-masing tipe traveller ya. Misalnya, yang backpacker/go show ngejudge yang pergi dengan tour & travel kesannya ‘manja’, hedon, dan sebagainya. Sebaliknya, yang pergi sama tour & travel ngejudge backpacker travellers ga asik, repot, dan lainnya. Sama aja kok sebenernya, tergantung tujuan kalian mau travelling itu apa, dan yang terpenting yang paling sesuai buat diri kalian itu yang mana. Happy travelling, my dear wanderers!

Seeing the local’s perspective

‘Travel as much as you can, as far as you can, as long as you can. Life is not meant to be lived in one place.’ – Anonymous

Kayaknya hampir semua orang pasti masukin travelling sebagai bucket list, hobby, atau yang paling enak bisa jadi bagian kehidupannya sehari-hari. Including me, of course. Tapi yang sebenernya agak menyesal kebanyakan malah ke luar negeri dibanding menjelajah keliling negara sendiri. Songong banget ya kayaknya haha udah untung bisa ke luar negri malah nyesel. But, that’s not the point. Hmm, travellers or may I say, wanderers, biasanya punya tipikal travellingnya masing-masing. Backpackers, leisure, adventure, touring, banyak deh. Kalo saya sendiri sebenernya flexible antara backpackers atau yang leisure. Kalo untuk adventure atau touring, duh ga dulu deh, jujur, saya cupu banget kalo disuruh naik gunung, atau nyelem atau apapun itu. As long as I stay on the ground, I’m happy.

Untuk destinasi yang saya sukai akhir-akhir ini, mostly CITIES, big or small one (or you may call it town, village, etc). Boring banget ya kayaknya, kayak bisa nebak, maunya ya yang modelan turis gitu, ke tourist attraction, foto-foto, belanja, belanji. Itu juga sih, tapi main purposenya, I want to see -and to be seen, as a local. Makanya kalo orang nanya, yang paling berkesan kalo saya travelling itu bukan ngunjungin tempat A-B-C, tapi perasaan saat saya duduk sambil dengerin lagu di taman dekat Lugano Lake, Italy atau pas saya jalan keliling Hongkong, naik subway, minum kopi deket plaza di Victoria’s Peak. I loved to see and do what locals do. Sebenernya ga terlalu suka travelling sama rombongan pake tour guide, ada keuntungannya sih tau sejarah dan semua serba instan. Tapi yang sebelnya, saya jadi gabisa stay terlalu lama di satu tempat untuk merasakan sekedar beberapa jam menjadi orang lokal. Dan saya juga baru sadar, kayaknya foto travelling saya malah kebanyakan foto-foto ga penting kaya duduk di taman, ngopi, jalan kaki. Foto di tourist attractionnya malah jarang. I don’t know why, ga terlalu excited aja buat foto-foto. Dan anehnya, paling senengggg kalo orang local setempat ngira saya emang tinggal di negara itu hihi. Paling sering sih dikirain jadi orang Turki (pas umroh), terus di rest area perjalanan antara Spanyol-Portugal, sempet disamperin orang lokal dan diajak ngomong bahasa Spanyol. Nah, hal ini juga yang sebenernya jadi motivasi untuk setiap saya travelling, saya mau belajar bahasa negara yang dituju itu. Biar bisa komunikasi dengan orang lokal.

IMG_6700
Salah satu hasil wandering around di Hongkong. There’s no wayyyy you could find this spot on traveladvisor or anything else. Gang ini agak tersembunyi tapi masih termasuk di daerah Causeway Bay Street, shopping street teramai di Hongkong. Ga sengaja lewat dan this spot attracted me much more than those tourist attractions. Dan akhirnya, malemnya nyempetin makan di sini.

Ada cerita cukup menarik sih, menurut saya, karena saya yang ga pedean ini buat bahasa inggris (karena belepotan dan selalu grogi kalo ngomong), bisa SEDIKIT berkomunikasi sama orang korea pas travel di Busan dan Hongkong. All thanks to drama korea, oppa oppa, saranghae. Waktu pas di Busan sih, skillnya masih level semut, cuma ngerti anyeonghaseo, kamsahamnida, ne, mogo (makan). Udah. Eh sama hwajangsili odieyo (toilet dimana). Modal aplikasi Learn Korea dari App Store. Teehee. Waktu nyasar pas jalan kaki mau ke Shinsegae Department Store (katanya department store terbesar di dunia), udah muter-muter jalan kaki ga nemu, nanya orang lokal sana pake bahasa korea seadanya. Tapi alhamdulillah dia ngerti. Tapi permasalahannya saya ga ngerti apa yang diomongin sama dia. Haha. Sama aja boong. Tapi yang bikin saya seneng, adalah ekspresi muka dia saat dia tau saya berusaha buat bicara bahasa Korea, awalnya kaget dan langsung senyum seolah menghargai saya untuk usaha berkomunikasi dengan bahasa mereka. Mau ga mau juga sih. Di Busan jarraaanggg banget yang bisa bahasa inggris. Kalo di Seoul lumayan banyak sih.

Sama halnya di Hongkong, lumayan kaget sih, karena ternyata banyak orang Korea tinggal di Hongkong. Nah, waktu itu ga sengaja bingung mau cari makan apa, dan akhirnya ketemulah salah satu restoran Korea di pinggir gang kecil. Di sini, saya udah lumayan bisa banyak bicara kata dan kalimat Korea. Jadi, ya lumayan lebih banyak bisa berkomunikasi. Yang ngelayanin waktu itu kayaknya sih satu keluarga, dan yang nyamperin saya kebetulan nenek di keluarga itu, bisa bahasa inggris tapi terbatas. Akhirnya saya coba untuk komunikasi dengan bahasa Korea. And guess what! Her expression is the same expression I saw with the Busan lady 2 years ago. I’m so proud. Dan kali ini komunikasinya bisa dilakukan 2 arah (bukan kayak di Busan waktu itu, ngomong awalnya bahasa Korea, abis dijawab, langsung cengengesan karena ga ngerti balesannya). Dan nenek itu bersama anaknya langsung ngetreat saya seolah-olah saya memang native Korean, like their own daughter.

Dari pengalaman ini lah yang bikin saya gamau sekedar jadi turis di negara orang atau di kota orang, saya mau jadi bagian dari kota atau negara tersebut. Karena, man, kalo kita berusaha sedikitttt aja untuk melihat atau berada di perspektif orang lokal, mereka pun akan menghargai kita dan memperlakukan kita seperti bagian dari mereka. And yes, that feeling is soooo goood, rather than piling up your travelling pictures in your phone galleries or posting bunch of it in social media. My next goal is to learn more languages, and see more local’s perspective in other countries, or better yet, in my own country.

PS: Insya Allah mau ngepost travelling diaries sebelum-sebelumnya, walaupun banyak yang late post sih pastinya. Adios for now!

Question to this 23-year-old-lady

Hari ini salah satu teman saya menikah. And i’m very happy and envy of her at the same time. Why? She already found THE ONE – and how lucky is her, tanpa pacaran, tanpa banyak unyu-unyu khas orang pacaran yang sebenernya malah ngeribetin diri sendiri; tembak-menembak, ngabarin mulu 24 jam, ngambek-ngambekan lah, berantem-berantem ga jelas (padahal dulu eke juga gitu sih, dan baru sadar aja, BUANG-BUANG WAKTU). Jujur ga tau cerita lengkapnya tentang mereka sih, tapi I know what she’s been through until finally she found her Mr. Right. Kalo kata pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, atau menurut pepatah yang saya bikin sendiri hehe; tidak ada kesenangan tanpa pengorbanan dan kepedihan (azekk).

Dalam hal jodoh menjodoh, sebelum kita ketemu Mr. Right pasti kita dipertemukan dengan Mr. Wrong dulu. Kenapa? Supaya kita bisa tau Mr. Right untuk kita tuh seperti apa. Supaya kita bisa belajar dari kesalahan dan lebih bijak memilih pasangan yang sesuai dengan kita dan yang bisa bimbing kita menjadi orang yang jauh-jauhhhh lebih baik dari sebelumnya.

Jadi inget percakapan saya dengan mama beberapa hari lalu. Tentang masa depan saya. Umur 23 pasti ya pertanyaan ‘Kapan Nikah?’ udah kayak ngingetin minum obat. 3 kali sehari, lebih malah, lebay sih. Ga dari orang tua, tante, om, nenek, kakek, sepupu, sepipi. #loh. Oke, balik lagi ke percakapan serius dengan sang mama tentang masa depan saya. Saya bilang, untuk waktu dekat ini belum kepikiran untuk menikah. Alasannya, karena saya pribadi belum mengenal diri saya sendiri, bahkan dalam segi karir atau mau jadi orang seperti apa saya kedepannya sepertinya masih susah dijawab sama diri sendiri. Dan untuk menambah elemen baru (read: orang baru) di dalam hidup saya yang ga jelas ini, menurut saya malah membuat saya jauh dari jawaban-jawaban yang ingin saya cari sebelumnya. Mau jadi apa saya? Mau jadi orang seperti apa saya? Kalo kata pakar-pakar galau cinta, mungkin bakal diketawain kali ya, dibilang mungkin trauma sama kisah sebelumnya. Tapi I’m proudly to say no. Saya pasti nikah, siapa sih cewek yang di umur-umur nikah gini yang gamau nikah. Tapi saya pengen lebih hati-hati memilih, lebih hati-hati memutuskan. Karena saya ingin mencari partner hidup, bukan cuma yang bisa bilang ‘I Love You’ tiap hari. Tapi partner yang bisa sama-sama mendukung satu sama lain untuk menemukan identitas diri masing-masing. Bukan yang saling posesif ga boleh ini itu. I still want to achieve my dreams with my future partner, and vice versa, i want to support my partner to achieves his dreams. Dan mungkin, suatu saat nanti saya malah bisa mempunyai mimpi yang sama berdua terus kita saling dukung satu sama lain untuk mencapai mimpi itu (i hope). Sampai sekarang sih saya belum nemuin orang itu, dan sebelum akhirnya suatu saat saya nemuin orang itu, let me achieve my nearest dreams by myself and of course to search the answer of this one big question; what kind of person i want to be. Pheww what a word. TEEHEE.

Greeting, Netizens!

IMG_4489

Hello, aku Ditta. Just a simple introduction aja ya hehe. Wanita,umur 23 tahun, dan sekarang sedang bekerja sebagai junior arsitek di salah satu biro arsitektur ternama di Jakarta Selatan. Kenapa bikin blog? Sebenernya awalnya ngerasa semacam geli sendiri kalo curhat di blog, tapi jujur, terlalu banyak pikiran yang sebenernya males juga cerita personal sama orang. Soalnya yang dibutuhin sebenernya cuma buat ngeluarin pikiran itu dari otak. Biar ga full full amat hehe. Yang mau saya ceritain di blog ini sih ya mungkin ga menarik buat dibaca, atau mungkin ga akan ngebahas sesuatu yang berat dan bisa jadi inspirasi buat orang lain, seperti blog blog berbobot kalian yang baca (misalnya). Blog ini cuma mau ceritain apa yang jadi keseharian saya, apa yang saya pikirkan, apa yang saya gundah gulanakan (geli banget hh), dan ya yang simple simple aja deh, mungkin dari yang penting sampe ga penting samsek. Tapi jangan dianggep buat galau-galauan atau ajang sok-sok bijak gitu ya, mudah-mudahan kedepannya isinya beneran bukan galau-galauan aja hehe. Nice to see you, netizens and welcome to my little world!