Hijrahku untuk Allah SWT

My greatest regret in my life is…. dating.

And since 2014, Alhamdulillah, I decided to stay myself single until someday, sooner or later, I met the right person that Allah SWT sent to me. Mungkin ini bentuk hijrah saya selanjutnya sebagai seorang muslimah, setelah tahun 2012 saya pertama kali berhijrah dari yang awalnya suka pamer rambut dan badan, lalu memutuskan untuk menutup aurat saya dan berjilbab. Tapi, saya lantas merenung, berjilbab pun bukan berarti, TADA! kita sebagai wanita dianggap sudah menjadi wanita atau muslimah yang baik. Tidak dengan saya.

Layaknya wanita yang baru berjilbab, ditambah dulu kelakuan saya bisa dibilang ‘liar’ (jangan dianggep liar yang kayak cabe-cabean ya), intinya kelakuannya ga banget deh, dimana saya sering dicaci maki pada minggu-minggu pertama saya berjilbab. Dibilang ga pantes lah pake jilbab, kelakuannya belom bener lah, dan sebagainya. Dulu, pas awal berjilbab bahkan ada yang berani bilang di depan muka saya, “Paling seminggu juga udah lepas.” Dan percaya tidak percaya, omongan itu keluar dari mulut salah satu teman dekat. Alhamdulillah, Allah SWT masih menjaga keyakinan saya hingga sampai sekarang saya masih bisa bertahan dengan jilbab saya, tapi yang selanjutnya ini yang agak sulit menurut saya. Berperilaku selayaknya seorang muslimah yang baik. Dan ironisnya, awal saya berjilbab, saya malah melumuri diri saya sendiri dengan dosa. Pacaran.

Sampai akhirnya pada tahun 2013 akhir, tiba-tiba saya seperti ‘disentil’ sama Allah SWT. Saat itu saya yang sudah pacaran selama 2 tahun lebih, tiba-tiba dibolak-balikkan hatinya oleh Sang Maha Pembolak-Balik Hati. Saya tiba-tiba sangat ragu-ragu dengan pasangan saya saat itu, tanpa ada alasan yang jelas. Saya merasa yang saya lakukan dengan dia merupakan dosa besar, sampai pada beberapa minggu kemudian, mama menghampiri saya dan bilang sesuatu yang membuat saya bilang sama diri saya sendiri, mungkin ini solusi dari keragu-raguan saya. “Ditta, tahun depan kita umroh ya.” Untuk pertama kalinya, saya merasa Allah SWT benar-benar dekat dengan saya saat itu, seolah ia sedang mengulurkan tangan-Nya menuntun saya keluar dari keragu-raguan tersebut. Belum saja sampai di tanah suci, bahkan saat saya baru melakukan manasik, air mata saya luluh. Saya merasa saya yang berlumuran dosa ini tidak layak untuk berangkat ke tanah suci, menjadi tamu Allah SWT. Tapi, Allah SWT berkehendak lain, Allah SWT masih mau mengundang saya ke rumah-Nya.

Masya Allah, sesampainya saya di tanah suci, melihat Ka’bah di depan mata saya, air mata seperti gabisa dibendung lagi. Berada di tanah suci. Yang sudah pasti menjadi impian semua orang muslim yang mungkin jauh lebih taat dibandingkan saya, tetapi Allah SWT tetap mengundang saya. Saya yang terlalu banyak dosa sampai saya merasa seperti sampah di hadapan-Nya. Setiap saya sholat dan berdoa, saya selalu merenungkan dan menangisi setiap kesalahan dan dosa-dosa saya. Saya malu. Malu dengan diri saya. Malu dengan jilbab saya. Saat itu, salah satu doa saya adalah untuk mendekatkan orang itu apabila dia memang jodoh saya, dan jauhkan jika memang bukan. Dan, kuatkan hati dan keyakinan saya untuk tetap berada di jalan yang benar. Allah SWT mendengar dan menjawab saya. Sepulangnya saya dari umroh, keyakinan saya untuk memutuskan pacar saya saat itu, semakin kuat. Dan setelah mencari kekuatan dan keyakinan, dengan membaca buku, Al-Quran dan Hadits, mendengar ceramah dan kajian Islam yang berhubungan larangan dan mudharatnya pacaran, saya memberanikan diri untuk menyudahi hubungan saya. Hijrah saya yang kedua, di hidup saya. Tidak berpacaran.

Cobaan di hijrah saya ini jauh lebih berat levelnya dibandingkan hijrah sebelumnya. Tapi, motivasi saya cuma satu, saya ingat kata mama, Allah SWT mau menaikkan derajat kamu dengan menguji keimanan kamu. Jujur, hampir setahun saya dibuat galau oleh setan-setan yang berusaha menggagalkan hijrah saya. Tetapi, saking sayangnya Allah SWT sama saya, hamba-Nya yang bandel ini, saya diingatkan kembali untuk kembali berada di jalan-Nya. Dan, alhamdulillah, mulai tahun kemarin, saya benar-benar menjalankan hijrah saya dengan baik hingga sampai saat ini. Dan benar saja, rasanya kehidupan sehari-hari lebih bahagia, walaupun sering dikatain dan digodain, “Dasar jomblo ngenes.” Sudah biasa. Untungnya lagi, dengan status saya yang single ini, saya malah bisa mengenal diri saya lebih jauh. Mengejar mimpi saya yang saat pacaran dihabiskan buat mikirin dia. Bersilaturahmi dengan teman-teman dan menghabiskan waktu bersama keluarga yang dulunya saya habiskan dengan sibuk dengan handphone untuk membalas chat dia. Dan yang paling penting, bisa lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, yang dulunya saya habiskan dengan malam mingguan atau telfonan ga jelas.

Kalo kata orang, jomblo itu nasib, single itu pilihan. Kalo menurut saya, jomblo atau single sama aja. Sama-sama pilihan. Terserah mau memilih untuk lebih mendekatkan diri sama ciptaan-Nya, yang bisa jadi suatu saat bisa meninggalkan atau mengkhianati kita atau mau lebih dekat sama Sang Penciptanya, yang dijamin ga akan meninggalkan dan mengkhianati kita apapun yang terjadi?

PS : Tulisan ini bukan menyudutkan yang pacaran atau yang galau karena single mulu ya hehe. Saya berdoa untuk yang jomblo/single (seperti saya) dipertemukan dengan pasangannya yang tepat, di waktu yang tepat pula seperti yang ditentukan Allah SWT, dan untuk yang lagi punya pacar, supaya kalian atau pasangan kalian segera diketukkan pintu hatinya untuk menghalalkan hubungannya deh. Last but not least, mari sama-sama berdoa agar kita tetap istiqomah untuk terus berhijrah menjadi muslim/muslimah yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s