The story of finding my kind of sports

Hello, all! Finally I made this first Daily Wandering post! Well, if you’re being confused or wondering what daily wandering is, basically in this category, I will share you about my recent and daily activities, about works, business, lifestyle, and so on. And today, I will share you about my I-hope-I-become-healthy-and-lose-some-weight-too-actually lifestyle; sports!

Sebenernya, dari tahun 2009-an kalo ga salah, saya udah nyoba berbagai macem jenis olahraga. Padahal, saya paling benci yang namanya olahraga. Buat jalan dari kamar ke dapur aja rasanya mager. No wonder, now I turn to this fatty creature. Huks.

2547_1117102445432_6998192_n
Pertama kali join Indonesia Folding Bike. Dulu masih males pake helm. Takut poninya rusak. (Yes I also have those phases of poni lempar is my life).

Historically speaking, azek, awal jadi nyoba berbagai macem olahraga adalah karena ‘dicemplungin’ papa mama ke komunitas sepeda. Waktu itu, komunitas folding bike, Indonesian Folding Bike lagi hits-hitsnya, trayeknya ya kawasan CFD Sudirman-Thamrin. Papa yang bisa dibilang maniak sepeda tiba-tiba udah nyiapin 4 sepeda lipet, buat papa sendiri, mama, saya dan adek saya. And out of nowhere, I already kind of being part of this community. Ga berenti disitu, kemudian papa ajak saya gabung lagi di komunitas sepeda regional lain yang lebih kecil, yaitu daerah Tebet dan sekitarnya, namanya SOC (Sepeda Owners Community) Tebet.

1936014_1211029038943_1143676_n
Ngabuburit bareng SOC Tebet. Pardon ‘unhijabbed’ me. Masih kurus :”)

Awal saya join, kalo ga salah pas bulan puasa dan waktu itu lagi ada event ngabuburit dan buka puasa bareng terus kita keliling daerah Tebet dan Senayan. Yes, you hear me. Puasa, sepedaan. Kalo diitung-itung, sebenernya saya lumayan lama sih sekitar 2 tahunan ikut kegiatan komunitas atau cuma nimbrung gowes bareng, kadang-kadang papa juga ngajak temen satu kantor dan keluarganya sama-sama sepedaan, entah buat keliling Kota Tua atau sambil kulineran di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan sekitarnya. Cuma waktu itu, akhirnya saya lama-lama mundur bebas karena level papa makin rada ‘miring’ (I’m sorry papa I promise I’ll buy you ice cream). Dan papa akhirnya ‘pensiun dini’ and start to fold those things called folding bikes for good, dan ganti jadi mountain bike. Hobby barunya, downhill. Sering banget naik sepeda ke Puncak, Bogor kalo gasalah sih namanya Jalur Pipa Gas (JPG) Biking Community atau apa saya juga agak lupa. Man, this lady, could not handle that much. Pernah waktu sepedaan di Bandung, darah rendah saya kambuh ampe keleyengan, cuma gara-gara apa? Nanjak mulu. Well, maybe I have a lil bit princess syndrome. So sorry.

Akhirnya, dari situ saya ngerasa, mungkin sepeda bukan olahraga yang sesuai buat saya. Sempet off olahraga beberapa lama, karena ya, saya yang mageran, terus sempet sibuk ngurusin BKST (I will post about this later), kuliah arsitektur yang begadang mulu, terus saya memang belom nemuin olahraga yang tepat supaya bisa semangat dan teratur terus ngejalaninnya. And for your note, saya ga terlalu suka yang tipe nge-gym gitu, terlalu monoton. But, then I found this amazing pilates and healthy lifestyle account, BLOGILATES! Honestly, I think this is the most perfect sport for me. Blogilates sebenernya semacam personal trainer untuk pilates yang bisa diakses secara online (basenya pake Youtube), dan tiap bulan si trainernya, Cassey Ho, akan ngepost jadwal pilates routine apa yang harus dijalanin (you should check this out : www.blogilates.com). What I love about Pop Pilates (or you may say Blogilates) and Cassey, of course, that she is so motivating you not to give up! And also, it feels like you’re not training with a personal trainer, but with an exercise partner.

beginners-2b-1
Salah satu contoh Blogilates 4-week-plan for Beginners dari Blogilates. Download it at www.blogilates.com

Dari beberapa Youtube trainer, menurut saya sih dia paling oke dan menyenangkan ngajarnya. Dan ga cuma pilates routine yang dia bikin, dia juga banyak ngepost tentang home made clean eating, sampe baju, accessories, equipment, pokoknya everything about pilates and healthy lifestyle. I honestly recommend you to try this kind of sport, buat yang mageran kayak saya, ga punya banyak waktu buat ke gym/studio/apapun itu, atau ga nyaman untuk exercise di tempat umum. Tapi yang harus dicatet, kita butuh kesadaran yang sangat tinggi sih buat tetep disiplin ngejalanin pilates routine (and also to try clean eating).

image4
Berhubung karena ga ada foto waktu pilates di rumah (ya, ngapain juga foto pilates di rumah sendirian pula), jadi share foto contoh home mada clean eating yang saya buat, according to Cassey’s recipe on her blog. This is Smoke Salmon with Homemade Cauliflower Rice sebagai ganti kentang/nasi. Rasanya lumayan kok teehee.

Saya ngejalanin pilates and clean eating kira-kira ya 2,5 tahunan, dan efeknya, seriously, your face and skin are glowing, you’re more resistant of any sickness, your body is getting stronger and feels lighter, and also you can maintain your weight pretty well. Tapi, dasar anak bandel, clean eating-nya mulai hancur di awal 2014-an, jarang pilates lagi. Alasannya, ya ga sempet masak clean food lagi lah, sibuk begadang lagi lah jadi ga sempet olahraga dan tipar. Alhasil, kendor lagi. I know you feel irritated (not motivated) by me. So sorry, but I warned you already. TEEHEE. Dan, akhirnya pada pertengahan tahun 2014, teman dekat saya, mengajak saya ke salah satu olahraga ter-hip, yaitu : ZUM-ZUM-ZUMBA! Beda dengan sepeda dan pilates, zumba ini basenya seperti campuran dance latin dan fitness aerobic. Saya suka banget nari, dan pas dikenalin sama zumba ini, wajar aja saya nagih, karena zumba bukan hanya campuran dance, but also it’s all about party! Kayak dugem versi bakar lemak (tapi tenang aja kebanyakan di studionya cewek kok. Kalo dugem beneran mah yang ada saya udah dibakar pas nyampe rumah sama ibu saya. Kidding.)  Dan, waktu itu saya nyoba zumba di Sana Studio, daerah Panglima Polim. Studionya ga terlalu besar, intimate, terus trainer-trainernya juga asik-asik banget, kayak keluarga. Beda sih sama gym, karena mereka lebih ke studio, jadi basicnya lebih ke classes gitu bukan yang gym equipment lalala.

image2
Salah satu studio untuk TRX di Sana Studio. That straps yang saya bilang buat support berat badan kita pas doing exercises like plank and so on.

Classesnya juga lumayan banyak, ada Zumba (Zumba Dance, Toning, Sentao), Muay Thai, TRX, Pilates, dan Yoga. Waktu itu saya sempet juga combine Zumba dan TRX. Kalo TRX dia kayak pake equipment semacam strap gitu tapi ga elastis, yang digantung di atap, jadinya si strap ini bakal jadi support kita, misalnya buat squat, plank, and so on.

image3
Waktu masih strong, nyobain planking dengan kaki menggantung di strap. Beban yang ditahan sama tangan otomatis jadi lebih besar dibandingkan planking with your two feet on the ground.

Alasannya nyoba combine this two stuffs? Penasaran. Kedua, kalo Zumba dia sifatnya adalah cardio, untuk membakar lemak, sedang TRX lebih focus ke toned your muscle. Buat ngencengin lah. Karena saya tipikal badan yang ngebeleber kayak tahu, yang saya butuhin bukan cardio aja, tapi juga buat toned up my muscle, ngencengin gelambir-gelambir ga jelas ini.

FullSizeRender
After Zumba Class, with one of our instructure, Laila Munaf. Credit photo : Instagram Mba Laila.

Dan sayangnya, saya mulai jarang lagi rutin Zumba dan TRX, karena mulai masuk kerja, dan masih dalam tahap kemageran maunya Sabtu-Minggu goleran aja di rumah, which is please don’t do the same thing like me. Ditambah lagi, Sana Studio makin rame :(, jadi suka ga kedapetan kelas, dan suka males karena pff rame bet. Kedua, partner Zumba saya juga ikutan mager dan ga pede Zumba lagi karena udah sempet off lama. Takut ga bisa survive sampe akhir. Dan akhirnya, saya nyobain yoga. Well, kalo yang ini sebenernya saya baru dua kali nyobain. Pertama, di private class bersama ibu-ibu temen mama saya. Yang akhirnya saya males, karena ya too much rumpi-rumpi dan ibu-ibu kind of thing. Dan yang kedua, baru nyobain hari ini lagi sebenernya. Nanti saya bakal post di posting yang lain ya biar ga terlalu panjang hehe.

Ada yang satu agak terlupakan sih. Saya pernah nyoba lari. Tapi, the first 500 meter, I gave up. Bukan lari, tapi jalan. Padahal waktu itu cuma keliling UI aja sih sekitar 7km, yang saya tempuh akhirnya 1 jam. Cupu banget. Dan sampe sekarang, saya masih gabisa lari. Padahal mau ikutan semacem Color Run, dan Run-run hits lain semacemnya. Tapi, daripada mas-mas panitia ntar ga pulang-pulang gara-gara nungguin saya yang ga nyampe-nyampe finish linenya, mending saya berkorban. Boong deng. Emang sebenernya cupu.

Kalo bisa dipilih, olahraga yang sebenernya paling tepat, paling enjoy, dan paling berpengaruh buat badan saya sih, saya lebih prefer Zumba dan Pilates. Kalo zumba karena lebih mirip dengan hobby saya yaitu ngedance, jadi lebih fun dan ga berasa kayak olahraga, dan kalo Pilates, karena sesuai dengan lifestyle saya, yang overly busy, mageran dan apapun alasannya minumnya teh botol sosro. Ngawur. Tapi mungkin saya lumayan suka yoga juga, tapi I prefer pilates more. Karena lebih moving kali ya. Atau mungkin saya belum ketemu pasnya di Yoga. Tapi, mau nyoba lebih rutin sih, siapa tau lama-lama lebih enjoy hehe. Well, that’s it for now, and keep wandering, my fellow wanderers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s