Shanghai-Beijing Trip

Hello, wanderers! Continuing my previous post about last week long weekend, I decided to have a quick getaway to Shanghai and Beijing. Oh ya, btw kali ini aku ikut tour yang di book dari kantor papa, dan grupnya juga temen kantor papa dan keluarganya. Jadi, ya mungkin tripnya lebih padet dan ya, like I said, I can’t enjoy the trip quite enough, karena dengan dua kota yang berbeda, dan waktunya yang padet banget. But well, let’s take a look at a snippet which I love the most in this trip.

Shanghai

image
Unfortunately, Shanghai is too foggy for us to take pictures of its skyline. Huks.

Karena disini cuma semalem, dan man, I’m a little bit jet lag (karena sehari sebelum berangkat juga begadangan, tidurnya pun berantakan banget pas di pesawat), alhasil trip di Shanghai ini, semacem kayak mimpi. Ngawang gitu aja. Shanghai, actually not much different with Jakarta. Tapi bedanya, dia dibagi dua kota, kota baru (Pudong), yang isinya bangunan-bangunan tinggi semacem business district gitu, dan old town, yang bangunannya lebih tua. But overall, I’m not too impressed with this city, except their architecture.

image
Foggy Shanghai at Noon.

The building designs is impressive and also looks gigantic. And I don’t know, if i may say, urban designnya pun terlihat sangat menonjolkan ornamen-ornamen negara komunis, kayak landscape di bawah itu semacem ngingetin ornamen di bendera North Korea. But, I’m not so sure either sih. Oh ya, yang sangat amat kecewa pertama kali nyampe di Shanghai, toiletnya dimanapun jorok banget. Thank God, I brought so many antiseptic wet tissues.

image
Massive scale of buildings and urban landscape. Picture taken from top of TV Tower.

Shanghai-Beijing

image
Dari Shanghai, kita nyoba kereta cepat yang katanya di Indonesia juga lagi coba dibangun untuk Jakarta-Surabaya. Orang kantor sih yang lagi megang proyek LRT, sekitar 2 bulan lalu juga sempet ke Shanghai buat survey.

image

Kereta ini sendiri, terdiri dari 9 gerbong, dimana gerbong 1-3 untuk First Business Class, gerbong 4-8 ya semacam untuk Economy Class, dan gerbong 9 untuk makan. Kecepatan maksimum dari kereta ini bisa sampe 350km/hour. Shanghai-Beijing yang jaraknya 1.600km-an (kalo ga salah) pun akhirnya bisa ditempuh selama 5 jam. Btw, still, nobody, including train crew, can speak english. And also, too lazy too clean restaurant table, so we have no choice to eat on total mess and dirty table.

image
Flatlay is a must. Cemilan and coffee is a must. Ipod is a must. Teehee.

Beijing

image

Di Beijing, dari segi cuaca pun lebih menyenangkan dan ga terlalu buru-buru karena kita lumayan punya waktu yang cukup buat eksplor kota ini. Beda dengan Shanghai, Beijing lebih less hectic, sejuk tapi jarang hujan, dan full of history and tradition. Tapi, kerasa banget cuacanya kering sampe bikin muka dan bibir pecah-pecah. Dan kalian kalo udah sampe Beijing, harus nyobain traditional Bebek Peking-nya! Dia di wrap di semacam kulit lumpia terus dikasih saos gitu, abis itu dikasih lobak dan timun. Enak banget pokoknya!

And last, this is my tips for you who wants to travel to Shanghai-Beijing (or majority China cities) :

1. Learn basic Chinese. Your English is literally useless here. Nobody can speak English (even at the check in counter, there’s 2-3 who can’t speak English well). It’s useful if you want to go shopping, ask for halal food, ask for direction, etc.

2. BRING ONE SUITCASE FULL OF ANTISEPTIC WET TISSUES OR EVERYTHING THAT CAN KILL BACTERIES. Well, i’m too exagerrated it. But, seriously. You should bring at least 2-3 of it. Toiletnya, masya Allah. Just make sure you wipe anything you can wipe. Tears T_T

3. Don’t dehydrate yourself. Minum air putih yang banyak, karena cuacanya kering banget. Selain biar ga pusing, juga biar kulit kalian tetep lembab, ga kering dan pecah-pecah.

4. For those who can’t wash your *** after you pee without water, wet tissues for your geniality is also recommended, because they only gave you dry tissue, which I can’t feel clean just by using dry tissues.

5. Chinese is very good at marketing (and also sometimes disturbing). Mereka akan maksa kalian beli barang, apalagi yang street market, atau pedagang kaki lima yang suka ngemper di deket tempat wisata. Kalo kata local tour guide di sana, kalo bisa jangan beli barang dari pedagang kaki lima yang ‘ngemper’, kalopun pengen banget, kasih duit pas. Karena mereka suka nakal, misalnya harganya ¥20 terus kalian kasih ¥100, nah kembaliannya biasanya dibalikin dengan mata duit asing selain yuan, bisa mata uang rusia, korea, apapun itu. Ajaib ya haha.

6. Get ready for bad service. Sebenernya sih karena perbedaan culture aja sih. Tapi emang kayaknya kebanyakan tipikalnya jorok sih disana, di hotel pun pas breakfast, meja kotor bekas orang ga akan dibersihin, walaupun kita udah minta berkali-kali. Jadi, mesti extra sabar ya.

7. Buying data roaming provider Indonesia, is basically useless. Internet lemot banget, and also, Facebook and Line is prohibited. Gaakan bisa buka karena diblock di China. Kalo saya pribadi sih Line, Path, Snapchat, Instagram bisa dibuka, tapi gabisa ngapa-ngapain juga karena lemot dan failed to upload/update. Mungkin bisa consider beli kartu lokal supaya ga lemot (tapi tetep, Facebook dan semacamnya katanya sih ga akan bisa diakses.

Okay, selesai deh summary trip kali ini. Sekarang saatnya kerja keras lagi, nyari duit lagi, biar bisa liburan lagi hehe. Selamat kembali bekerja, my dear fellow wanderers! See you on my next trip! Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s