She’s gone to a better place.

Note before you read this post : Post ini sebenernya udah lama di draft, dan baru hari ini bisa di post, because I couldn’t finish it until now. Well, happy reading guys. I’m sorry it seems I couldn’t move on. But am still trying now.

—————–

image

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Telah berpulang ke rahmatullah, nenek dan ibu tercinta, Siti Harisyah Safiudin binti Abdul Djebar pada hari Kamis, 16 Juni 2016 / 11 Ramadhan 1437 H. Atas nama almarhumah, saya selaku perwakilan keluarga, memohon maaf sebesar-besarnya apabila ada kesalahan almarhumah yang disengaja ataupun tidak.

Dear wanderers,

I lost her. Hari ini hari ke 21 nenek meninggal. And I even can’t say I love you, or goodbye for the last time. Sampai saat ini, masih belum bisa sepenuhnya sadar kalo nenek udah ga ada. Hari ini lebaran, dan memang setiap tahunnya selalu ada open house di rumah saya. Dan kali ini, keluarga dari pihak mama dan papa di satuin di rumah saya. Rame banget, tapi semakin kerasa nenek udah ga ada. Nenek saat meninggal berada di kondisi yang sangat bagus, sakaratul mautnya sangat halus, walaupun saya tidak menyaksikan langsung detik-detik terakhir nenek pulang.

I already shared to you about my grandmother’s condition lately. Seminggu terakhir setelah saya nulis blog, akhirnya pada hari Senin, 14 Juni 2016, mama memutuskan untuk membawa nenek ke rumah sakit, dan betul saja, dokter langsung menginstruksikan untuk rawat inap (karena pinggang belakang nenek saya sangat sakit, diare, dan sama sekali tidak ada nafsu makan). Hari Senin-Selasa, saya tidak bisa mengunjungi nenek sama sekali di rumah sakit, yeah, lembur. Saya sempat memohon untuk tidak lembur karena ingin menemani nenek di rumah sakit, tapi apadaya, tidak ada yang mengerti. Sampai akhirnya pada hari Selasa, saya lembur sampai pagi, dan akhirnya saya memutuskan untuk hari Rabu-nya, mengambil cuti karena sakit, maag saya kambuh dan entah kenapa saya ingin sekali menjenguk nenek. Akhirnya, hari Rabu itu walaupun saya diare dan maag, saya tetap menyempatkan waktu untuk ke rumah sakit. Selama nenek saya di rumah sakit, nenek Ida (adik nenek dari Surabaya) yang menjaga nenek terus-terusan. Hari itu, seandainya saya tidak sakit, saya ingin sekali menginap menemani/menggantikan nenek Ida untuk menjaga nenek. Seharian itu, saya sejujurnya mempunyai firasat yang sangat tidak enak. Saya ingin melihat nenek terus, dan entah kenapa saya selalu ingin menangis melihat nenek. Nenek seperti sudah tidak mengenal saya. Dia hanya memanggil saya kalo mau pindah posisi (karena tulang belakang yang sangat sakit). I don’t even know if she’s still remember my name. Seharian saya pegang tangan nenek, mengusap kepalanya, but she still has no response, just looking up to the ceiling, saying, “Udah ga kuat, Kak,” repeatedly. Ga nyangka, kalo itu tanda-tanda nenek mau dipanggil. Saya tidak tau mau respon apa saat itu, saya cuma bisa mengelus punggungnya dan bacain doa dalam hati. Jam 9 malam, waktu besuk habis dan akhirnya saya, papa, dan mama, dan satu tante saya pamit pulang. Sejujurnya saya sangat tidak enak meninggalkan nenek Ida yang sudah tua juga, sendirian di sana. Tapi bodohnya, saya tidak mengikuti naluri untuk tetap stay disana. Sebelum pulang, tiba-tiba tante saya bilang, “Ditta, bilang minta maaf kalo Ditta ada salah ke nenek ya.” I hate it seriously. Seolah-olah kayak saya gaakan pernah ketemu nenek lagi. Tapi saya nurut saja. And who knows, that’s the last time I talk to my grandmother. And I even don’t say I love you.

The next day, saya masuk kntor dengan perasaan ga enak. Antara pengen ‘kabur sehari lagi’ atau ke rumah sakit. Tapi karena gamau kelamaan ngabur, jadinya saya lawan kemalasan itu dan berangkat ke kantor. Strangely sampe kantor, saya kepikiran nenek terus, dan saya memutuskan buat solat Dhuha. Setelah sholat Dhuha, tiba-tiba notif line masuk. Dari mama. “Kak, nenek masuk ICU, doain ya.” Saya masih belum punya feeling apa-apa. The only next thing i want to do is just go to the hospital asap. Tapi saya mikir mungkin ga parah-parah banget, mungkin cuma butuh diawasi lebih lanjut karena nafasnya yang sesek. Mama pun nyaranin untuk lihat perkembangan selanjutnya. Tapi, entah kenapa saya langsung nangis. After I composed myself to continue to work, dan saya sempat line adik saya di Bandung, “Fi, nenek masuk ICU, kamu kapan pulang? Doain nenek kuat ya biar bisa ketemu kamu.” 10 detik kemudian, telfon masuk. Dari rumah. Disinilah perasaan saya sudah benar tidak enak. I burst into tears before I pick up my phone. “Kak…… katanya…. katanya….. nenek udah ga ada.” It felt like a huge things just fall and crashed above my head. Saya nangis kenceng (I really don’t care about my colleague and bosses caught me in tears), tremor, badan dingin, dengkul saya lemas. Saya gabisa ngomong sama sekali di telfon, dan sambil gemetaran, saya cuma bilang satu kata, “Serius?”. Ya Allah, walaupun saya sudah punya prasangka, tapi saya benar-benar ga nyangka waktunya datang secepat ini. Setidaknya saya pengen peluk terakhir kalinya. Pengen bilang, Ditta ga pernah benci nenek. Ditta sayang banget sama nenek. Maafin Ditta cuek banget sama nenek. Maafin Ditta suka galak sama nenek. Hari itu, saya penuh menyesali kenapa saya ga berlaku baik atau ga cuek sama nenek. Kenapa saya jarang negur nenek. Kenapa saya asyik sendiri sama hidup saya. Kenapa saya asyik bersilaturahmi sama orang baru, sedangkan orang yang seumur hidup lebih lama dan lebih kenal sama saya, saya cuekkin gitu aja.


Kata orang, kita akan tau betapa seseorang berharga buat kita, di saat kita kehilangan orang itu. Well, this is my biggest heartbroken and regret I’ve ever felt in my life. Tapi, saya berusaha untuk mengambil hikmah dan sisi positifnya. Nenek menahan sakit, dan ketergantungan dengan obat-obatan sudah hampir lebih dari 20 tahun. It is much better for her since the pain already gone right now. Dan berkat nenek juga, pandangan saya berubah 180 derajat. Kesuksesan bukan dihitung dari seberapa banyak uang, seberapa tinggi jabatan, atau seberapa bagus perusahaan tempat kita bekerja. Kesuksesan sebenarnya adalah seberapa bahagia kita, seberapa bahagia orang di sekitar kita, dan yang terpenting seberapa dekat kita dengan yang Maha Kuasa. Saya lupa, saya terlalu fokus mengejar goal pribadi saya, ada orang-orang sekitar yang ditinggalkan dan dilupakan. Untuk sekarang, saya berusaha untuk tidak terlalu ngoyo dalam bekerja. Cari pekerjaan dimana kita masih punya waktu untuk berkumpul dengan keluarga, beribadah, dan waktu untuk sendiri. Allah SWT cuma memberikan kita satu kali hidup, kenapa kita tidak gunakan sebaik mungkin dan sebahagia mungkin?

Thank you, Nek, you taught me so much when you lived even until you’re gone now, you taught me the most important things in life. I got mom’s back, so don’t worry, Nek. I love you, and til we meet again in Jannah, in shaa Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s